…Di Dermaga Kalbumu Rinduku Bermuara…

2011
02.25

Dalam satu purnama aku merindu

Meratap dalam sunyi

Sendiri tenggelam dalam diam

Malam ini ku tatap benderangnya purnama

Rupamu terlukis manis

Elok bertengger di benderangnya purnama

Dalam satu purnama aku merindu

Menanti dalam sunyi

Menghimpun kata dalam harap

Dalam satu purnama aku merindu

Meniti titian kasih

Menapaki jembatan rindu

Malam ini benderangnya purnama masih sempurna

Dan rupamu pun masih elok bertengger

di sempurnanya benderang purnama

Dalam satu purnama aku merindu

Merangkai harap dalam doa

Menapaki jembatan rindu di dermaga kalbumu

Karena di situlah rinduku bermuara

Bogor, 24 Februari 2011

Kisah Kita…

2011
02.23

Berpayungkan sapuan semburat jingga di kanvas langit,

Dan diselingi alunan merdu kepak sayap

Layang-layang yang beriring

Kita bersisian saat Seruan Agung berkumandang

Kita duduk berdampingan

Menatap guratan awan putih yang perlahan sirna

Oleh bercak jingga

Berpayungkan sapuan semburat jingga di kanvas langit

Disaksikan oleh kepakan sayap layang-layang yang beriring

Aku pun berkata:

Aku merasa sempurna…

Bogor, 22 Februari 2011

Senandung Masa

2011
02.22

Senandung Masa

Kenangan masa lalu kembali bergelayut

Pahit manis hidup yang menempa

Suka duka yang terkenang

Kenangan masa kecil kembali membayang

Dongeng tentang raja-ratu

Kisah tentang pangeran-putri

Riak kisah yang muncul

Bergelayut riang

Berjuta kisah telah berjuluk kenangan

Setelahnya hanya ada kini: saat ini

Bogor, 21 Februari 2011

PKM : Ajang Menulis Ilmiah atau Mengarang Indah???

2011
02.13

PKM : Ajang Menulis Ilmiah atau Mengarang Indah???

Berawal dari sebuah kegiatan bernama ‘mendengarkan’ lah tulisan ini terlahir.  Inspirasinya adalah obrolan dua orang mahasiswa yang berada di dalam angkutan umum (baca: angkot kampus dalam-laladon).  Alkisah, tersebutlah dua orang mahasiswa salah satu perguruan tinggi termasyur di Kota Hujan yang sedang melakukan perjalanan menuju suatu tempat yang entah dimana keberadaannya (tidak terlalu penting kemana dua mahasiswa ini akan pergi).  Selama perjalanan, dua mahasiswa ini asyik memperbincangkan keberhasilan mereka lolos tahap awal seleksi sebuah ajang kejuaraan mahasiswa bergengsi, yang dikenal dengan julukan PKM.  Karya mereka berhasil lolos tahap awal.  Dengan kata lain, karya berupa tulisan ilmiah milik mereka berhasil didanai.  Menakjubkan sekaligus membanggakan bukan???

Tentu saja keberhasilan dua mahasiswa di atas sangat membanggakan.  Tapi, tunggu dulu, di tengah perbincangan mereka, satu diantara dua mahasiswa tadi berseru “Eh, emangnya bisa ya tumbuhan X diekstrak?, bahan untuk mengekstraknya apa ya?”. Mahasiswa lainnya terdiam beberapa detik, tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulutnya.  “Gue kan ngarang waktu nulis metodenya.  Padahal gue belum tau, tumbuhan X itu bisa apa ga diekstrak.  Kalo ga bisa, kita ganti aja tumbuhannya ama tumbuhan Y.  Gampang kan.  Ga diteliti ini kan kita beneran pake bahan sesuai ama yang kita tulis atau ga”, lanjut mahasiswa yang berseru tadi.

Dialog di atas adalah salah satu dialog yang tertangkap oleh telinga penulis dan mampu diingat untuk kemudian dituangkan ke dalam tulisan ini.  Tidak persis sama memang, tapi intinya dua mahasiswa dalam ‘alkisah’ ini sebenarnya menerapkan metode ‘mengarang indah’ ketika membuat karya yang seharusnya mewujud dalam sebuah tulisan ilmiah.  Tapi ternyata, metode ‘mengarang indah’ yang digunakan dua mahasiswa tadi ampuh.  Terbukti dengan berhasilnya tulisan ilmiah dengan metode ‘mengarang indah’ milik mereka yang lolos seleksi awal dan didanai.

Bagaimana menurutmu??? (-mu: siapa pun yang membaca tulisan ini)

Ironis bukan? Mahasiswa yang selama ini dikenal sebagai kaum intelektual ternyata belum mampu bertanggung jawab atas sematan gelar yang menancap padanya.  Tersinggungkah kita sebagai mahasiswa jika ada yang mengatakan bahwa kita belum bisa bertanggung jawab atas gelar ‘kaum intelektual’ yang tersemat pada diri kita? Wajar saja kalau kita tersinggung.  Namun, jika fakta menunjukkan bahwa masih ada mahasiswa yang ketika dituntut untuk menghasilkan sebuah karya berupa tulisan ilmiah tidak menggunakan metode yang juga ilmiah untuk membuat karya itu, apa kita masih tersinggung? Tanyakan pada hati kita masing-masing.

Pada dasarnya tulisan ini merupakan ungkapan keprihatinan penulis terhadap sebuah ajang kejuaraan bergengsi di tingkat mahasiswa yang dikenal dengan istilah PKM.  Setiap universitas akan sangat bangga jika jumlah tulisan ilmiah (proposal PKM) yang berasal dari para mahasiswanya tergolong ke dalam kategori banyak.  Tidak salah kebanggaan itu.  Tapi, lihatlah realitanya saat ini.  Untuk mengejar kebanggaan, maka target universitas terhadap ajang bergengsi PKM sedikit melenceng.  Hal yang terpenting adalah kuantitas, kualitas bisa dinomorduakan.  Buktinya, setiap tahun jumlah proposal PKM yang lolos didanai semakin bertambah sedangkan kualitasnya masih harus dicek dan dipertanyakan.

Belum lama ini, pengumuman hasil PKM telah dipublikasikan melalui berbagai media.  Tidak lama setelah pengumuman, dana akan segera bergulir.  Setelah itu, beberapa bulan kemudian akan ada monitoring perkembangan penggunaan dana yang telah diberikan. Secara konsep tahapan ini dapat dikatakan sebagai tahapan yang ideal.  Namun, secara real di lapangan apakah juga masih berkategori ideal?  Dana PKM yang telah digulirkan apakah sudah seutuhnya digunakan untuk kegiatan PKM? Berapa persen proporsi dana tersebut digunakan untuk PKM dan lain-lainnya (di luar PKM, apa pun bentuknya)?.

Seperti judul tulisan ini, PKM: Ajang Menulis Ilmiah atau Mengarang Indah??? Keberadaan PKM sebagai salah satu ajang bergengsi di tingkat mahasiswa seyogyanya menjadi sebuah ajang untuk mengasah kemampuan mahasiswa dalam melahirkan dan menciptakan sebuah karya ilmiah.  Idealnya, PKM adalah salah satu arena bagi mahasiswa untuk membuktikan bahwa ia mampu bertanggung jawab atas gelar ‘kaum intelektual’ yang tersemat pada dirinya.  Namun, realita mengungkap hal yang berbeda.  Tidak sedikit karya ilmiah yang dihasilkan mahasiswa dan diikutsertakan dalam ajang PKM terlahir dengan metode yang sama sekali tidak ilmiah.  Bahasa gamblangnya, tidak sedikit proposal PKM itu lahir dari hasil copy paste plus revisi minim dari PKM ‘kakak kelas’ atau proposal PKM sengaja dilahirkan dengan metode ‘mengarang indah’, yang penting judulnya menarik dan membuat penasaran (substansi dan metode pelaksanaannya dikarang saja dulu, kalau dananya sudah ada baru dipikirkan bagaimana melaksanakannya).

Sekali lagi ditegaskan bahwa tulisan ini merupakan ungkapan keprihatinan penulis terhadap sebuah ajang kejuaraan bergengsi di tingkat mahasiswa yang dikenal dengan istilah PKM.  Realisasi PKM yang belum optimal, karya-karya yang diikutsertakan dalam PKM yang masih perlu dicek dan dipertanyakan keilmiahannya, dan penggunaan dana PKM yang terkadang menyimpang adalah sedikit hal yang disoroti penulis.  Tulisan ini tidak bermaksud untuk ‘menyindir’ siapa pun.

Selamat kepada rekan-rekan mahasiswa yang proposal PKMnya telah lolos seleksi tahap awal (didanai).  Semoga dana yang akan segera bergulir dapat digunakan dan dimanfaatkan untuk kegiatan PKM seutuhnya.  Semoga ajang PKM tahun ini menjadi ajang untuk membuktikan bahwa dirimu mampu bertanggung jawab atas gelar ‘kaum intelektual’ yang tersemat padamu.

Bogor, 10 Februari 2011

Di salah satu kamar Rumah Kayu, Bukit Sentul

…Dialog Keletihan…

2011
02.08

Semburat Jingga

mewarnai kanvas Langit…

Gundah tengah menyeruak di latar kalbu

Perlahan mulai menghimpit: sesak

Gundah itu enggan beranjak dari kalbu

Katanya ingin istirahat saja

Hingga letihnya sirna

Tapi sampai kapan?

Kalbu sewot bertanya pada gundah

Sampai letihku sirna

Jawab gundah sekenanya

Kapan letihmu sirna?”

Irama kesal pun menyembur dari kalbu

E N T A H L A H…”

Kata gundah sekenanya lagi

Aku letih dengan ulahmu

Timpal kalbu pasrah

Diiringi oleh sesak yang makin menghimpit…

“Harmoni Senja”

2011
02.08

Waktu itu senja sedang jingga

Semburatnya mengalirkan ketenangan

Semburatnya menciptakan teduh tanpa batas

Waktu itu senja sedang jingga

Semburatnya menyiratkan keindahan

Semburatnya melukis keelokan rupa

Waktu itu senja sedang jingga

Semburat warna tanpa cela

Semburat warna tentang sebuah maha karya

Waktu itu senja sedang jingga…

Aku rindu: ‘waktu itu

Student Center IPB: Alternatif “Tempat” untuk Mengisi Liburan

2011
02.02

Suasana Student Center IPB yang lebih ‘top’ dengan sebutan SC ketika libur kuliah sedang berlangsung ternyata tak jauh berbeda dengan suasana SC ketika masa aktif kuliah sedang berlangsung. Tetap berpenghuni.  Tetap riuh oleh gerak-gerik mahasiswa yang memutuskan untuk menghabiskan masa liburan di Bumi IPB tercinta.

Bisa dipastikan sosok-sosok mahasiswa yang memutuskan tetap bertahan di bumi IPB selama liburan adalah sosok-sosok mahasiswa yang aktif berkutat dengan organisasi.  Berkutat dengan rapat, berkutat dengan grand design organisasi, berkutat denga timeline kelembagaan, berkutat dengan RKAT, pokoknya berkutat dengan segala hal tentang organisasi.

Bagi para mahasiswa yang kerap berjuluk “aktivis” ini, SC IPB tentu saja menjadi salah satu alternatif tempat paling strategis untuk menghabiskan masa liburan.  Tempat paling strategis untuk mengisi waktu selama liburan semester.  Tentu saja mengisi waktu liburan dengan hal-hal yang bermanfaat.  Salah satunya: “belajar bersosialisasi”.

Selamat Liburan…:)

“Mawar: Di balik Indahnya Rupamu”

2011
01.26

“You Can Complain Because Roses Have Thorns or You Can Rejoice Because Thorns Have Roses” – Zig Ziglar -

“Kau bisa mengeluh karena bunga mawar itu berduri atau kau bisa riang/gembira karena duri memiliki bunga mawar”.

Slogan di atas adalah slogan tentang indahnya berpikir secara positif (Positive Thinking).

Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda tentang sekuntum mawar.  Salah satunya mungkin berpikir betapa beruntungnya duri-duri yang menempel di batang mawar, karena duri-duri itu memiliki indahnya rupa sang mawar.  Seorang yang lain mungkin menganggap betapa malang nasib sang mawar, karena keindahannya seolah tertutup oleh duri-duri di sekujur tubuhnya.

Pemikiran atau pandangan yang berbeda tentang hal yang sama adalah sesuatu yang sering terjadi dalam kehidupan kita.  Seperti pandangan tentang sekuntum mawar, titik fokus pandangan atau titik pusat perhatian yang digunakan masing-masing orang akan menghasilkan pemikiran yang berbeda.  Di satu sisi, orang pertama berfokus pada “keberuntungan duri” sedangkan orang lainnya berfokus pada ” malangnya mawar”.

Dalam kehidupan, kemampuan melihat segala sesuatu secara positif sangatlah dibutuhkan.  Oleh karena itu, kemampuan ini penting untuk dimiliki dan dikembangkan masing-masing individu.  Setiap individu yang berusaha mengembangkan kemampuan berpikir positifnya adalah seseorang yang mampu memilih.  Kata kunci dalam berpikir positif adalah memilih.  Seperti ketika melihat sekuntum mawar, kemampuan untuk memandang keberuntungan duri yang memiliki keindahan rupa sang mawar bukanlah sebuah kemampuan yang lahir begitu saja.  Kemampuan untuk memusatkan perhatian pada keberuntungan duri yang memiliki keindahan rupa sang mawar adalah sebuah kemampuan yang dapat dipupuk dan dikembangkan.

Maka, bersegeralah memilih untuk memupuk dan mengembangkan kemampuan berpikir positif.  Bersegeralah untuk beranjak memandang sekuntum mawar dari sudut pandang “keberuntungan duri” bukan dari sudut pandang “malangnya nasib sang mawar”.

Bersegeralah bergembira karena duri pun beruntung memiliki indahnya rupa sang mawar…

The Last Exam in IPB…

2011
01.13

Mahasiswa semester 7 pada Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (SKPM), FEMA IPB.  That’s my status…:)

10 s.d. 22 Januari 2010 adalah pekannya Ujian Akhir Semester bagi semua mahasiswa IPB.  Bagiku, UAS kali ini tidaklah sama dengan UAS sebelum-sebelumnya.

UAS kali ini benar-benar menjadi ujian akhir yang terakhir.

Yup yup…

Karena semester 8 sudah tidak ada lagi kuliah, UTS atau UAS. Yang ada hanya proposal penelitian, penelitian, skripsi, uji petik, sidang skripsi, lulus, wisuda.

AMIN…………………………

Semoga UAS terakhir di IPB menjadi UAS terbaik yang pernah kujalani, dengan hasil terbaik juga…

Smangadh!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Awali dengan Bismillah…

2011
01.13

Bismillahirrohmanirrohim…

Akhirnya punya blog lagi.  Setelah sekian lama vakum dari dunia per-blog-an dan melupakan pernak pernik dunia blog.  Terlupakan lebih tepatnya.  Belakangan ini semangat untuk menulis mulai tumbuh lagi.  Menulis apa saja.  Mulai dari menulis curahan isi hati, menulis kata-kata yang menurutku puitis, menulis Studi Pustaka (walaupun karena tuntutan sebagai mahasiswa SKPM semester 7), menulis cerpen yang benar-benar pendek, menulis, menulis, dan menulis.

Dengan adanya blog ini, semoga semangat untuk menulis dan melahirkan tulisan-tulisan yang berbobot dan bermanfaat terus tumbuh dan tak pernah layu.

Semoga tulisan-tulisan dalam blog ini bisa menjadi inspirasi bagi para pembacanya, khususnya bagi yang melahirkan tulisan-tulisan tersebut.

Selamat Menikmati…

Smangadh!!!!!

Tetaplah Berjuang dan Berkontribusi bagi Kemajuan Agama, Nusa, dan Bangsa… :)